Kebiasaan saya kalo pas lagi nonton TV adalah beranjak dari tempat duduk selagi jeda iklan, entah itu ke dapur untuk minum atau hanya sekedar mondar-mandir di depan kaca toilet sambil menyesali kebiasaan ngemil yang membuat pertumbuhan lemak di tubuh saya semakin bergairah saja.Hari ini seperti biasa pas giliran jeda untuk iklan tiba, saya kembali ke toilet untuk yang kesekian kalinya untuk sekedar berpose mengempiskan perut yang mulai berlipat. Selagi berimajinasi berperut rata layaknya Cameron Diaz saya mendengar iklan Pilkada Jakarta yang kalau tidak salah bunyinya seperti ini " karena beliau cinta keluarga bla bla bla". Saya tersenyum mendengar penggunaan kata "cinta keluarga" .
Bapak saya juga pecinta keluarga tetapi kenapa kalau tiba waktu pemilihan ketua RT bapak tidak pernah menang ? usut punya usut ternyata bapak kalo diluaran terkenal bengis, hehehe… maklum kumis tebal bapak jauh beda dari kumisnya mas Andi Malaranggeng atau bahkan sama sekali tidak mirip dengan kumisnya mas Adam suaminya mbak Inul, jadi walaupun bapak di dalam keluarga terkenal lebih baik hati dan lebih sabar daripada mamak saya, tetap saja orang diluaran tidak ada yang tahu. Bapak memang tidak semujur Eyang Bush atau Eyang Suharto. Walaupun sama-sama pecinta keluarga Eyang Bush bisa terpilih jadi presiden bahkan anaknya yang juga pecinta keluarga masih berkuasa sampai sekarang. Begitu juga dengan Eyang Suharto, sewaktu Eyang Suharto masih berkuasa beliau juga termasuk pecinta keluarga lho, beliau tidak akan sanggup melihat anaknya menderita. Jika ada aib yang dilakukan anak-anaknya, beliau akan sekuat tenaga untuk melindungi anaknya supaya tidak menderita karena aib tersebut diketahui orang banyak. Memang kecintaan pada keluarga tidak sebatas keluarga sedarah saja bahkan sampai ada istilah “sing penting mambu dulur”, asalkan “bau” pasti bisa kecipratan hawa cinta ini, bahkan saudara sekampung, senasib dan sepenanggunganpun bisa tersenggol aroma cinta itu. Coba lihat keluarga Widjanarko puspoyo yang harus rela bergiliran untuk diperiksa oleh aparat hukum. Hanya karena saking cintanya pak Widjan sama keluarga, makanya dia dulu tidak rela kalo peluang-peluang jatuh ke orang lain bahkan kabarnya si simpanan juga kecipratan.
Bapak sebenarnya tidak jauh berbeda juga dengan buyut saya, Buyut sangat mencintai keluarganya, jadi tidaklah heran jika dua generasi diatas saya, hampir semuanya pegawai negeri. Buyut mengerahkan segala upaya untuk menyekolahkan anak-anaknya pada jaman itu ... bayangkan saja "jaman semono" bagaimana susahnya nyekolahin anak, tapi buyut maju terus sebagai kepala keluarga yang sangat mencintai keluarganya. Saya kok jadi teringat cerita anggota DPRD yang cinta sekali sama istrinya sampai rela dikecam banyak orang hanya karena ikut study banding keluar negeri yang sekaligus membawa serta anak istrinya jalan-jalan, hehehe “jalan ke nusa dua di hari sabtu, beli dua cuman bayar satu”… lumayan.
Saya menanti-nanti iklan pilkada itu muncul lagi biar saya tahu pasti apa sebenarnya maksud dari "cinta keluarga" tersebut, tapi apapun yang kita tungguin sepertinya lama untuk muncul lagi. Akhirnya saya kembali tersenyum setelah beberapa kali iklan kampanye pilkada Jakarta itu muncul lagi, karena tema sebagai pria pencinta keluarga, pria monogamy, pria baik hati dan suka senyum ternyata tidak diusung oleh satu kandidat saja tetapi malah dipake oleh kedua kandidat pilkada Jakarta tahun ini.
Menurut saya kenapa kok harus mengusung tema "cinta keluarga", bagaimana kalo diganti saja dengan "cinta rakyat kecil"... terlalu klise ya?
Friday, August 3, 2007
Kandidat "Cinta Keluarga"
Posted by Yunita at 12:43 PM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

1 comments:
hi yunita..still remember me? i like the way u write ths story..see u again
Post a Comment